Pilkadalembata's Blog
Jangan Malu Bicara Kalau Mau Jadi Pemimpin

Birahi Politik Elit Lembata di Mata Eddie Lamak

Kalau mau sedikit ekstrim membaca betapa birahi para politisi lokal berlomba merebut panggung politik di Lembata menjelang 2011 nanti, maka hanya satu pertanyaann yang ingin saya ajukan kepada siapa saja, terutama mereka yang memiliki mimpi untuk menjadi orang nomor satu dan nomor dua di Lembata lima tahun kelak: Uang dan ketamakan telah menjadi momok paling besar 10 tahun terakhir ini. Semua orang berteriak tentang pelanggaran hukum dalam penggunaan anggaran, tetapi pernahkah mereka yang beteriak itu juga berlomba-lomba untuk memperjuangkan pengungkapan berbagai dugaan yang mereka katakan itu? Singkat kata, berapa banyak orang yang serius dan konsisten memperjuangkan upaya pemberantasan korupsi di

Eddie Lamak saat berkampanye di basis-nya di Loang, Nagawutun

Lembata, khususnya lima tahun terakhir?

Galibnya style orang kita, jika dikasih kesempatan bicara, dia akan bicara jauh melampaui apa yang ingin didengar oleh audiens. Tapi coba suruh dia terjun langsung ke lapangan untuk ‘bekerja’ dan harus berhadapan dengan berbagai risiko yang

mengintainya setiap saat, sabar dulu. Hehehe. Apalagi untuk urusan melakukan langkah-langkah konkrit seperti melaporkan dugaan korupsi ke lembaga-lembaga terkait.”Sapa yang mau ama, nyawa bisa melayang o….apalagi kalau yang kita laporkan itu bapa bupati dan keluarganya,” demikian celetukan seorang anak muda di Jakarta, satu ketika dalam diskusi tentang upaya pemberantasan korupsi di Lembata.

Dalam sebuah obrolan antara saya dengan beberapa rekan FORMADDA-NTT (Forum Pemuda NTT, Penggerak Keadilan dan Perdamaian) beberapa minggu lalu. Hadir juga di dalam diskusi itu, sejumlah mahasiswa dan pemuda dari beberapa kabupaten lain di NTT. Terselip di antaranya, beberapa orang Lembata, yakni F.X. Namang, Pius Klobor dan Eddie Lamak dan saya sendiri yang meski bukan berasal dari Lembata namun jujur saya sangat tertarik dengan berbagai persoalan yang terjadi di Lembata, terutama sejak jaman kepemimpinan bupati Ande Manuk. Berbekal informasi yang saya dengar sebelumnya bahwa Eddie Lamak dan Ciku Namang adalah dua anak muda yang sangat getol melakukan ‘gerakan bawah tanah’ untuk mengungkap berbagai kasus korupsi di Lembata, saya coba mengajak Eddie yang wartawan dan pemilik sebuah majalah bisnis terkemuka di Jakarta ini untuk berbicara mengenai napak tilas perjuangan mereka mengungkap berbagai kasus korupsi lewat sejumlah lembaga hukum di Jakarta. Dalam pertemuan FORMADDA NTT malam itu,dia didaulat untuk menjadi Penasihat FORMADDA untuk Flores Timur dan Lembata.

Berikut oborolan kami malam itu, Jumat, 16 April 2011 di depan sekretariat JPIC OFM, Galur, Jakarta Pusat.

Suhu politik di Lembata sudah mulai ramai dengan wacana suksesi Lembata 2011 ini. Abang ada rencana untuk maju juga ka?

Haha, Pilkada?? Tidak e… Saya justru sekarang sedang konsentrasi untuk mau tangani satu produk pupuk organik yang akan mulai dipasarkan di seluruh Indonesia tahun ini. Pupuk ini sudah diuji di laboratorium pertanian IPB dan belum ada yang bisa menyaingi pupuk ini. Baik dari segi khasiat dan manfaatnya, maupun dari segi harganya. Pupuk cair yang bisa membuat ternak kambing melahirkan lima ekor anak, atau kelapa yang buahnya mulai mengecil, bisa jadi besar lagi, gendola bisa sepanjang 1.5 meter dan seterusnya-dan seterusnya yang tidak hanya terjadi sekali saja tetapi berkali-kali selama pohon atau tanaman itu masih berada dalam usia produktif yang normal.

Kalau ini dipakai oleh petani dan peternak di Lembata, saya yakin, jauh lebih bermanfaat dibandingkan bicara politik dimana semua orang berlomba merasa bisa dan saling sikut tanpa bisa menunjukan bagaimana dan apa kerja yang mau mereka perbuat untuk perbaikan Lembata dan dari mana mulai, dengan apa mulai bla..bla…bla…

Jadi abang lebih suka jadi pengusaha pupuk daripada kembali terjun ke gelanggang Pilkada?

Sepertinya begitu. Kita bisa lakukan apapun dari posisi kita masing-masing saat ini. Dan sepertinya saya lebih enjoy dengan itu ya.

Oh ya, lalu bagaimana dengan Jarak Bersih? Masih jalan?

Oh ya, JarakBersih masih ada. Masih terus berkoordinasi dan korespondensi terus dengan pihak-pihak terkait. Beberapa materi yang kami teruskan ke lembaga-lembaga di pusat, sudah mulai membuahkan hasil.

KPK?

Di antaranya

Apa kepanjangan Jarak Bersih itu, abang?

Jaringan Rakyat Berantas Korupsi

Siapa saja yang terlibat di sana? Terus bisa cerita ko, bagaimana keterlibatan abang di gerakan anti korupsi di Lembata?

Akh, gerakan anti korupsi itu tidak menarik untuk diceriterakan, adik. Lebih baik, diam-diam kita kerjakan. Tapi karena ada kasus yang juga kita ikuti yang sudah masuk persidangan dan ketika masuk, kita mendapatkan surat tembusan dari lembaga yang kita mintai bantuan, maka tidak apalah kalau saya ceritera sedikit.

Bagaimana ceritanya, abang bisa terlibat di dalam berbagai upaya pengungkapan korupsi dan tidak banyak yang tahu akan hal ini?

Sebetulnya kerja-kerja begini sudah dimulai sejak masi di tahun 2000 terkait dengan Pilkada Flotim saat itu. Saya dan teman-teman di Jakarta mencium aroma yang tidak sedap dalam kemunculan seorang kandidat waktu itu, sebut saja FF. Informan kami dari sebuah bank besar hasil likuidasi bank tempatnya bekerja dulu menyebutkan, bahwa dia memiliki rekam jejak yang tidak baik. Hanya, memang sulit membuktikan hal ini. Dalam perjalanannya, ternyata dugaan kami itu terbukti benar. Terlalu banyak masalah yang ia tinggalkan selama lima tahun berkuasa. Dan, kelompok kami kala itu, namanya “Satu Lamaholot” karena saking vokalnya memantau kinerja pemerintahan Flotim, akhirnya nama kelompok ini sempat FF sebutkan di dalam buku putihnya itu sebagai kelompok di Jakarta yang paling sering merongrongnya.

Mulai menyentuh kasus diLembata pada tahun 2004. Waktu itu saya bekerja sebagai news producer di jaringan radio SmartFM. Kebetulan sejumlah anggora DPRD membawa laporan mengenai dugaan korupsi senilai Rp98 miliaran. Mereka mengantarkan itu ke KPK dan karena saya tahu baik beberapa orang di dalamnya, akhirnya dari situ kami mulai membangun jaringan hingga saat ini.

Siapa saja anggota D

PRD yang laporkan itu?

Ada Alwi Murin, Ahmad Bumi, PBK dan beberapa yang lainlah.

Nah, lalu lahirnya Jarak Bersih sendiri?

Jadi, dari sana kemudian saya sempat juga mengajak Alwi untuk siaran live by phone di Smart FM dan dia bicara cukup keras waktu itu. Akhirnya masuklah di era 2006 di mana ada hajatan Pilkada Lembata yang kita semua tahu bagaimana prosesnya ketika itu.

Lepas dari Pilkada, tidak berapa lamaa kemudian, saya ditelepon oleh Bapa Piter (PBK), dan menyatakan bahwa dia ada di sebuah hotel di Kemang. Saat tiba di sana, ada sejumlah anggota DPR, Pak Piet Atawolo, Abang Burhan Hurek, mereka ada di sana. Lalu saja ajak PBK keluar jalan dan di atas Nissan Terrano merah, saya menyetir dan dia mulai berceritera tentang maksud kedatangan mereka yaitu untuk bertemu dengan Yusuf Merukh, membicarakan rencana tambang emas di Lembata.

Sontak saya kaget dan spontan berujar. “Bapa, saya tidak setuju kalau di atas Pulau Lembata itu dilakukan penambangan.” Beliau tidak banyak bicara tetapi juga tidak membantah apa yang saya katakan.

Nah, sejak itu pula saya kemudian berkenalan dengan P. Mikhael Peruhe OFM, dan memasang mata dan telinga kami untuk meneruskan berbagai keluh kesah masyarakat dan perjuangan rekan-rekan anti tambang di Lembata untuk diteruskan di Jakarta. Kami kemudian mendirikan apa yang namanya, Koalisi Jakarta untuk Tolak Tambang Lembata di Jakarta.

Simpul ini berjalan cukup efektif. Hingga akhirnya kami tercenung ketika terkuak hasil temuan BPK tentang miliaran dana APBD yang penggunaannya tidak dapat ditelusuri dan dipertanggungjawabkan. Kita tentu masih ingatlah soal itu.

Kami akhirnya bersepakat untuk membentuk sebuah simpul yang concern pada dugaan korupsi. Nah, saya, Pater Mikhael dan Ciku Namang, berulangkali ke KPKuntuk memasukan berkas laporan. Berkali-kali, bahkan kami pernah melakukan rapat bersama direktur Pengaduan Masyarakat (Dumas), Handoyo Sudrajat bersama dua Officer-nya yang menangani laporan kami.

Bersama KPK kami bahkan sudah berencana untuk melakukan “Against Corruption Road in Lembata dan Flotim, dalam bentuk seminar atau workshop, bagaimana menangkal korupsi sejak dini. Sayangnya, meski secara lisan sudah disetujui BNI untuk menjadi salah satu sponsornya, namun ini tidak berjalan karena tidak cukup banyak orang yang mau bergabung untuk berada di posisi ini.

Nah, sejak saat itu, korespondensi dengan KPK terus berlangsung hingga detik ini. Dan kamu tau, siapa yang memasok data ke kami untuk kamu teruskan ke KPK??

PBK?

Kok kamu tahu? Data kami memang cukup komplit dan beliau membantu kami mendapatkan itu. Meski banyak tidak sepakat dengan beliau, namun sebagai pribadi saya hormat dan salut pada semangat nya untuk mau melihat kampung kita Lembata menjadi lebih baik. Tahu dari mana kamu?

Dari album foto salah satu anggota dewan yang berkunjung ke KPK dan menulis keterangan foto-nya, ada nama PBK-nya.

Oh ya, iya. Officer yang ditemui itulah yang menangani berkas yang kami masukan dulu. Namanya Pak Prabowo. Rekan anggota DPR yang datang itu, saya suka langkahnya yang berani itu.

Kalau mau dihitung, sudah banyak hal yang abang lakukan tapi orang Lembata di sana tidak tahu. Kenapa tidak yakin untuk maju lagi?

Hahaha, lebih enak begini saja. Dan lebih baik orang Lembata sama sekali tidak tau tentang apa yang sudah kita kerjakan selama ini di Jakarta. Tidak perlu narcis lah🙂

Ok, kalau begitu, dari nama-nama yang beredar sekarang, abang lebih medukung siapa?

Pak Herman bagus, Viktus bagus, Polce Ruing bagus, semuanya bagus-bagus. Tinggal siapa yang punya konsep yang realitistis dan bisa diterapkan di Lembata, serta siapa yang memiliki komitmen untuk bisa mencuci piring kotor di Lembata itu.

Abang, bagaimana kalau kami adakan diskusi antar calon minimal yang ada di Jakarta, supaya ada penyamaan persepsi mengenai Lembata ke depan, bersedia hadir?

Silahkan, sayadukung. Kalau waktunya pas, saya hadir. Hitung-gitung sharing pengalaman, setidaknya dari semua orang berbicara tentang Pilkada Lembata, saya bersyukur bahwa, saya adalah satu dari 10 orang putera Lembata yang pernah merasakan bagaimana menjadi calon…ya calon yang kemudian kalah, tentunya rasanya lebih berat to?

Ok, abang. Terima kasih untuk waktunya. Sukses.

Ya, sukses dengan pupuk saya ya…:)

Eddie Lamak adalah wartawan yang kini memiliki media ekonomi dan bisnis di Jakarta, kadang tidak banyak bicara dan pelit informasi. Ayah dua putera ini juga memiliki usaha konsultan Public Relations dengan nama emtigacommunications. Di bisnis yang ia kerjakan ini, Eddie tidak lupa menggunakan jasa dan keahlian sejumlah staf fresh graduated yang berasal dari Flotim dan Lembata. Ia tampak tengah asyik dengan mainan barunya ini. Tetapi, kalau melihat sepak terjangnya di dunia politik yang selalu penuh kejutan itu, bukan tidak mungkin di last minute, ia akan turun gelanggang juga, seperti yang terjadi 2006 silam. Semuanya hanya dia yang tahu.

Pewawancara: Ata Goran

Jakarta

3 Responses to “Birahi Politik Elit Lembata di Mata Eddie Lamak”

  1. dukunglah herman loli untuk menjadi fadel muhamad lembata

  2. Pak Eddie Lamak, saya putra Lembata, orang pertama yang menbdukung Bapa, kalau maju dalam pilkada 2011 nanti. Kami sudah muak dengan mental korup pejabat dan DPR di Lembata saat ini. Ayo kita berjuang membuat perubahan di Lembata !


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: